Selasa, Juli 23, 2024
BerandaDAERAHRatusan Mahasiswa Di Sarolangun Suarakan Tolak Kenaikan Harga BBM

Ratusan Mahasiswa Di Sarolangun Suarakan Tolak Kenaikan Harga BBM

 

Mahasiswa saat berunjuk rasa di gedung DPRD Sarolangun dan ditemui langsung ketua DPRD Sarolangun tontawi Jauhari

KABAR SAROLANGUN – Ratusan mahasiswa yang mengatasnamakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAI Ma’arif Sarolangun melakukan aksi unjuk rasa ke Gedung DPRD Sarolangun, Kamis (15/09)2022).

Mereka menyuarakan penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Bersubsidi yang telah berlaku pada awal bulan September yang lalu. Setelah sebelumnya, aksi penolakan kenaikan harga BBM telah dilakukan oleh DPD II Partai PKS Kabupaten Sarolangun.

Dari pantauan dilapangan, mahasiswa bergerak dari kampus STAI Ma’arif Sarolangun dengan mengendari satu unit mobil carry pick up dan sepeda motor menuju gedung DPRD Sarolangun.

Sebelum tiba di gedung DPRD Sarolangun, mahasiswa terlebih dahulu berorasi di jalan lintas Sumatera, simpang Kantor Bupati Sarolangun dan mahasiswa juga sempat membakar ban bekas sebagai bentuk penolakan kebijakan pemerintah terhadap kenaikan harga BBM tersebut.

“Hari ini kita berjalan untuk berteriak di DPRD sarolangun untuk menyampaikan aspirasi rakyat atas kenaikan harga BBM bersubsidi yang telah menyusahkan rakyat. Pemerintah kita lalai dan diam akan hal kenaikan harga BBM ini. Turunkan harga BBM, ini suara hati kita. Dengarkan suara kami, ketua DPRD Sarolangun. Kami minta turunkan harga BBM,” kata salah seorang pendemo Muhammad Rio Akbar.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Ketua DEMA STAI Ma’arif Arpan, mereka menolak kenaikan harga BBM ini sangat tidak tepat karena masyarakat saat ini baru dilanda oleh pandemi covid-19, kelangkaan minyak goreng, dan juga berdampak terhadap kenaikan harga barang.

“Jangan takut dan jangan gentar, disini kita memperjuangkan hak rakyat, pemerintah sudah semena-mena terhadap rakyat yang seharusnya harus mengayomi masyarakat. Kami menolak kenaikan BBM, dan kami minta turunkan harga BBM. Kita sudah dilanda covid-19, kelangkaan minyak goreng. Kami minta DPRD Sarolangun untuk bertindak tegas menolak kenaikan harga BBM,” katanya.

Aksi bakar ban saat berorasi di simpang Kantor Bupati Sarolangun

Aksi Unjuk rasa dikawal ketat oleh aparat keamanan yang terdiri aparat kepolisian Polres Sarolangun dan personel TNI Kodim 0420/Sarko, Satpol PP Kabupaten Sarolangun, Dinas Perhubungan Kabupaten Sarolangun yang dipimpin langsung Kapolres Sarolangun AKBP Anggun Cahyono, Sik.

Usai berorasi di simpang Kantor Bupati Sarolangun, mahasiswa kemudian bergerak menuju gedung DPRD Sarolangun. Setibanya, mahasiswa terlebih dahulu mendapatkan penghadangan di pintu masuk gedung DPRD sebelum akhirnya diperbolehkan masuk menuju halaman pintu masuk gedung DPRD Sarolangun.

Tampak hadir langsung menemui pendemo, Ketua DPRD Sarolangun Tontawi Jauhari, SE, Wakil Ketua II DPRD Sarolangun Syahrial Gunawan, SEz Anggota DPRD Sarolangun ( Fadlan Kholiq, SE, ME, Sy. Jefri Sonnefil, SE, Yusuf Helmi AB), Kakan Kesbangpol Sarolangun Hudri, M.Pd.I, Kasat Pol PP Sarolangun Drs Muslihadi, M.Pd.I.

Dalam kegiatan aksi tersebut sempat dilakukan mediasi agar dilakukan audiensi di ruang rapat internal DPRD Sarolangun atau duduk bersama di halaman pintu masuk gedung DPRD Sarolangun.

“Saya sangat mendukung aksi adik-adik mahasiwa hari ini, karena bukan masyarakat Sarolangun tapi semua masyarakat Indonesia merasakan ini. Maka dari itu, kami menunggu aksi adik-adik hari ini,” kata ketua DPRD Sarolangun Tontawi Jauhari kepada mahasiswa.

Politis partai Golkar itu juga bilang, bahwa pihaknya meminta perwakilan mahasiwa untuk beraudiensi di ruangan internal, dan jika dilakukan di ruang rapat paripurna secara aturan memang tidak diperbolehkan aktivitas rapat selain untuk rapat paripurna.

“Kalau di ruang rapat paripurna memang tidak bisa dilakukan karena ruangan itu khusus untuk rapat paripurna. Saya masih membuka diri bagi adik-adik karena tujuan kita sama, silahkan perwakilan 15 orang untuk ke ruangan internal. Kalau memang tidak bisa, terpaksa harus duduk di sini,” katanya.

Kericuhan aksi dorong mendorong antara mahasiswa dengan aparat keamanan hingga dipukul mundur untuk membubarkan diri

Namun mahasiswa tetap ingin agar audiensi dapat dilakukan di ruang rapat paripurna DPRD Sarolangun, sebab menurutnya gedung DPRD merupakan gedung rakyat.

Karena tidak ada kesepakatan terkakt audiensi, para mahasiswa yang memaksa masuk sempat terjadi kericuhan dengan aksi saling dorong mendorong dengan aparat keamanan.

“Hari ini kami mau masuk kedalam gedung DPRD Sarolangun, apabila kita tidak di izinkan kita kembali dengan pasukan yang lebih banyak. Untuk mewakili suara bapak dan ibu kita yang sedang di rumah, hidup rakyat Indonesia,” kata Rio Akbar.

“Kami mewakili dari seluruh elemen mahasiswa untuk turun ke jalan dalam menyuarakan tuntutan dan sebuah argumen untuk dibahas hari ini. Harga BBM dinaikkan, masyarakat menanggung pak. Belum lagi antrian yang panjang. Dan kami tegaskan disini, menolak kenaikan harga BBM dan kami minta turunkan harga BBM,” kata dia menambahkan.

Dikarenakan mahasiswa tidak mau beraudiensi di ruangan internal DPRD Sarolangun atau di halaman pintu masuk gedung DPRD Sarolangun, akhirnya aparat keamanan memaksa pukul mundur mahasiswa dari halaman DPRD Sarolangun dengan mendorong mundur secara paksa. Lalu kemudian mahasiswa membubarkan diri dari gedung DPRD Sarolangun secara baik.

Penulis : A.R Wahid Harahap

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

BERITA TERBARU