Swarnabhumi Angkat Tradisi Junjung Pusako, Bakal Dihadiri Gubernur Jambi dan Sekjen Kemendikbud

0
Kadis Dikbud Sarolangun Drs H M Arsyad, SH, M.Pd.I
Kadis Dikbud Sarolangun Drs H M Arsyad, SH, M.Pd.I saat dibincangi media ini

KABAR SAROLANGUN – Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) saat ini tengah melakukan rangkaian persiapan dalam pelaksanaan kegiatan Kenduri Swarnabhumi tahun 2023.

Kegiatan tersebut merupakan agenda nasional dibawah binaan langsung Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud ristek), yang bakal dilaksanakan pada Rabu mendatang tanggal 27 September 2023, di Desa Tanjung Gagak, Kecamatan Bathin VIII.

Kadis Dikbud Sarolangun Drs H M. Arsyad, SH, M.Pd.I, mengatakan bahwa Kenduri Swarnabhumi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sarolangun mengangkat festival tradisi adat dan budaya berupa Junjung Pusako, yang sudah menjadi tradisi secara turun temurun di Desa Tanjung Gagak.

” Swarnabhumi ini Iven Seni budaya tertinggi yang dibina oleh Kemendikbud ristek yakni direktur kebudayaan yang dilaksanakan di tingkat kabupaten dan ini menjadi agenda besar, nasional dan daerah. Nanti dilaksanakan tanggal 27 September 2023,” katanya, Kamis (21/09/2023) saat di konfirmasi media ini.

Kata Arsyad, bahwa kegiatan tersebut bakal dihadiri oleh Sekretaris Jendral Kemendikbud Ristek Ir Suharti, M.A, Ph.D, dan dibuka langsung oleh Gubernur Jambi Dr H Alharis, S.Sos, MH, serta seluruh kepala Daerah dalam wilayah Kabupaten/Kota se-Provinsi Jambi dan Kabupaten tetangga, serta pendamping dan penggiat seni budaya serta masyarakat.

” Junjung Pusako ada beberapa Pusako lamo akan dilestarikan dan di ritualkan dimana puncak acara malam hari di tanggal 27, dan disaksikan para kepala daerah, Gubernur dan kementrian serta pendamping. Sehingga acara ritual junjung Pusako menjadi budaya nasional menjadi Hasanah budaya Indonesia, dan di Sarolangun ternyata ada budaya seperti itu,” katanya.

Ia juga bilang bahwa nantinya tradisi adat dan budaya junjung Pusako ini akan terus dilestarikan untuk semakin dikenal oleh masyarakat secara luas, serta akan mendapatkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dan menjadikan tradisi junjung Pusako untuk masuk dalam warisan budaya tingkat dunia atau UNESCO.

” Tujuannya adalah mengangkat budaya Hasanah adat di satu tempat untuk diangkat ke permukaan dijadikan Hasanah budaya nasional dan Sarolangun sudah dua kali dalam kegiatan ini yakni kemarin lapik Semendo, dan kali ini kita angkat festival tradisi junjung Pusako,” katanya.

” Ini diakui secara nasional, hal paten lah berupa HAKI menjadi milik Desa Tanjung Gagak, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun. Paling fenomenal yang ditentukan oleh Kemendikbud, mereka menguji dan mengetes dan menentukan layak untuk di angkat ke permukaan dalam kegiatan Swarnabhumi ini,” kata dia menambahkan.

Selain itu, Arsyad juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Sarolangun untuk kembali melestarikan adat dan budaya-budaya lama, untuk dijadikan sebagai budaya daerah dan budaya nasional serta menjadi pusat pariwisata, dengan harapan bisa menimbulkan pendapatan bagi masyarakat dan retribusi bagi daerah ketika budaya itu dilestarikan.

” Selama ini terkesan budaya dan adat istiadat itu diam saja, harapan kita itu diangkat, maka masyarakat Sarolangun agar mengangkat budaya lama untuk kegiatan festival atau kesenian rakyat,” katanya.

Tradisi Junjung Pusako merupakan salah satu Rangkaian adat istiadat yang dilaksanakan setiap tanggal 12 rabiul awal setiap tahun, artinya dilakukan satu tahun sekali.

Pusako tersebut berisikan Tulisan kuno, tulisan tangan manusia, keris, bulu berukuran 20 centimeter yang bertuliskan tulisan kuno, Kain panjang.

Semuanya dibungkus dengan kain dan Pusako tersebut dibuka dan diasapkan serta diberikan kembang tujuh warna. Setelah selesai dibungkus kembali dan di arak menuju tanah lapangan, dimana masyarakat sudah menunggu dengan istilah junjung Pusako. dan ini adalah tradisi adat dan budaya masih digunakan sampai saat ini, di desa tanjung gagak.

Masyarakat setempat melaksanakan tradisi tersebut dalam rangka membersihkan alat-alat pusaka yang jumlahnya sebanyak 7 alat pusaka, seperti keris, tanduk, tabuh air minum dan tempat surat, kain batik irik-irik, batu Idak padi, jago padi, tempat rambut putri susu tunggal.

Penulis : A.R Wahid Harahap