
KABAR SAROLANGUN – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sarolangun memaparkan kondisi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Wilayah Kabupaten Sarolangun selama tahun 2026.
Paparan tersebut disampaikan langsung dihadapan Danrem 042/Gapu Jambi Brigjen TNI M Nyamin, dalam kegiatan Rakor Penanganan Karhutla, Jum’at (21/08/2026) di Rumah Dinas Bupati Sarolangun.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Sarolangun H Hurmin, Wakil Bupati Sarolangun Gerry Trisatwika, SE, Jajaran PJU Korem 0420/Gapu Jambi, Kalaksa BPBD Provinsi Jambi H Bachyuni Deliansyah, Forkopimda Kabupaten Sarolangun, Para Asisten dan Staf Ahli Bupati, Kepala OPD dan seluruh stakeholder terkait.
Kalaksa BPBD Sarolangun Solahuddin Nopri mengatakan bahwa Kabupaten Sarolangun dengan luas 5.935, 89 km persegi terdiri dari 11 kecamatan, 9 Kelurahan dan 149 Desa yang dialiri tiga sungai besar, dimana potensi bencana di Kabupaten Sarolangun itu banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Bicara soal Karhutla, Solahuddin Nopri menjelaskan bahwa pada Priode 1 Januari 2026 sampai 16 Agustus 2026 ada sebanyak 524 titik hotspot di Kabupaten Sarolangun, dimana jumlah tersebut merupakan terbanyak ketiga se-Provinsi Jambi.
Sedangkan Jumlah lahan terbakar, Kabupaten Sarolangun berada di urutan kedua terbesar di Provinsi Jambi, yakni lahan gambut terbakar 47,10 hektar di Kecamatan Air Hitam, Lahan Mineral 96,51 hektar, dengan keseluruhan 143,81 hektar
” Penyumbang terbesar yaitu Kecamatan Air Hitam, titik hotspot terbesar di Kecamatan Mandiangin,” katanya.
Untuk jumlah personil pemadaman, kata Solahuddin Nopri, Satgas Karhutla terdiri dari BPBD 15 orang tim Tim Reaksi Cepat (TRC), 63 personil Damkar tersebar di beberapa kecamatan, 59 orang Manggala Agni dan dibantu KPHP Hulu dan Hilir serta TNI dan Polri.
” Sarana dan prasarana diantaranya Mobil double cabin 1 unit, truk serba unit 1, motor 15 unit, mobil angkutan pemadam 1 unit dna sebagainya kemudian dibantu Manggala Agni dan satgas Karhutla,” katanya.
Ia juga menjelaskan dalam penanganan karhutla, pihaknya mengalami kendala dan hambatan, diantaranya sulitnya akses jalan menuju titik hotspot, Jumlah personil yang terbatas, Musim kemarau biasanya sumber air susah, Rendahnya kesadaran dari masyarakat yang tetap maling-maling membakar ketika membuka lahan.
” Langkah strategis yang dilakukan yakni melaksanakan rakor satgas karhutla, menetapkan status siaga darurat, membentuk tim satgas karhutla, melakukan sosialisasi pencegahan karhutla melalui spanduk, baliho dan di media sosial, serta melakukan pengecekan titik api dan melakukan giat pemadaman karhutla,” katanya.
Penulis : A.R Wahid Harahap


