
KABAR SAROLANGUN – Kepala Desa Napal Melintang Muhammad Lutri Y mengapresiasi atas kunjungan kerja Bupati Sarolangun H Hurmin beserta rombongan ke Dusun Manggis, Desa Napal Melintang, Kecamatan Limun, Sabtu (29/08/2026) lalu.
Kedatangan kepala daerah ini menjadi angin segar bagi masyarakat dusun manggis yang berjumlah 65 KK dengan 273 jiwa, agar keluhan masyarakat selama ini kedepannya bisa diatasi.
Kades Napal Melintang, Muhammad Lutri Y mengatakan bahwa masyarakat yang ada di dusun manggis ini sangat membutuhkan akses jalan darat dan listrik untuk penerangan rumah-rumah warga.
” Termasuk kunjungan perdana bapak Bupati Sarolangun, selain langsung memberikan bantuan sosial, juga tentu menyerap aspirasi,” kata Kades.
Muhammad Lutri Y menjelaskan bahwa di Dusun Manggis saat ini sangat dibutuhkan adanya akses jalan darat untuk memberikan kemudahan dan kelancaran akses jalan bagi masyarakat. Serta listrik untuk penerangan rumah-rumah warga yang ada di Dusun Manggis tersebut.
” Salah satunya untuk akses jalan. Jadi akses jalan itu sekarang ini lagi nunggu perizinan. Kalau dari hutan primer menjadi sekunder sudah, jadi tunggu perizinan, mungkin pengajuannya sudah ke BPKH Pangkal Pinang, ke Kementerian, tinggal lagi tunggu persetujuan,” katanya.
” Kemudian yang kedua, lampu, disitu tidak ada penerangan, lampu ginset belum ada. Dan solusinya akan diajukan PLTMH namanya,” kata dia menambahkan.

Akses jalan saat ini, lanjutnya, untuk jalur darat masyarakat berjalan kaki keluar masuk dusun hingga 6 jam. Jika melalui jalur aliran sungai, membutuhkan waktu 7 jam menggunakan perahu ketek, bisa dari Berau, Mengkua dan juga Batang Asai.
” Kalau berjalan kaki, kami biasanya itu cepat orang di situ, 6 jam dari desa kami itu, dari tempat kami itu menuju ke Manggis. Kalau orang yang biasa ini sampai satu harian. Kalau berkeretek dari berau itu, kalau air besar itu bisa mencapai 7 jam tapi kalau seperti ini, nginap di jalan,” katanya.
” Karena kalau kemarau, airnya dangkal, kering. Jadi tidak bisa. Jadi bahasanya itu airnya surut kan kereteknya biasanya bisa laju pakai mesin, ini harus di tarik,” kata dia menambahkan.
Disamping itu, untuk pelayanan dasar seperti pendidikan. Kata M Lutri, di dusun manggis sudah ada sekolah dan madrasah, kemudian ada juga mesjid.
Bahkan dusun manggis, dari rentan waktu tahun 1980 hingga 1989, sudah menjadi Desa Manggis. Maka iapun berharap kedepannya Pemerintah Kabupaten Sarolangun dapat mengusulkan untuk pemekaran desa Manggis.
” Kemudian untuk bahan pokok atau bahan bangunan, 9 bahan pohon pokok atau bangunan, ya jelas itu mahal. Contoh semen satu sak itu 300 ribu sampai ke lokasi. Kalau mata pencarian itu macam-macam jadi masyarakat bertani masing-masing kopi ada sedikit karet ada sedikit,” katanya.
Lutri juga berharap secepatnya Pemerintah Daerah Kabupaten Sarolangun untuk membantu masyarakat dusun manggis, terutama akses jalan dan lampu penerangan. ” Kalau bisa ada mungkin celahnya dari pihak Kabupaten, bagaimana kalau diajukan dusun manggis menjadi desa manggis itu harapan kami,” katanya.
Penulis : A.R Wahid Harahap


